R.P. Leo van Beurden, OSC
[Ketua Yayasan Salib Suci]

KATA SAMBUTAN KETUA YAYASAN SALIB SUCI

Para Pembaca dan Pencinta Sekolah Santo Yusup 2 Jalan Jawa,

 

Damai sejahtera bagimu,

Luar biasa perkembangan dan perubahan yang terjadi akhir-akhir ini di dunia Pendidikan negeri kita Indonesia. Tentu sekolah-sekolah Yayasan Salib Suci ikut kena dan ditantang berubah. Mungkin kita harus bersyukur juga pada “tante” Corona yang memaksa kita berubah.

 

Sudah lama saya merenungkan dan makin hari makin mantap. Pendapat saya bahwa HUMANIORA harus menjadi dasar dan prioritas Pendidikan di sekolah-sekolah Yayasan Salib Suci. Artinya kita harus mengutamakan, memanusiakan, dan membentuk karakter/hati murid kita untuk masa depan. Yayasan Salib Suci menyumbang ke negara kita pribadi siswa yang bertanggung jawab baik atas hidupnya sendiri maupun hidup bersama. Mereka jujur, disiplin, peduli, toleransi, religius, dan cinta pada alam semesta.

 

Kalau saja hati, batin, dan watak anak-anak kita sayang pada sesama ciptaan Tuhan, dengan sendirinya dia akan belajar dengan tekun untuk juga mengembangkan otaknya demi pelayanan pada sesama yang dijumpainya.

Semoga anak-anak kita yang dipercayakan pada sekolah-sekolah Yayasan Salib Suci, khususnya Santo Yusup 2 Jalan Jawa, merasa betah, senang, membentuk diri secara optimal baik di bidang Humaniora maupun intelektual. Mari kita berjuang bersama-sama demi masa depan anak-anak kita yang tercinta.

Salam damai,

Yohana Dhita Mahayani Dewi
[Kepala SD Santo Yusup]

KATA SAMBUTAN KEPALA SEKOLAH

Shalom ….

Selamat datang di web site SD Santo Yusup , saya Yohana Dhita sebagai Kepala Sekolah  SD Santo Yusup . Berbicara mengenai arti BELAJAR memang tergantung dari masing-masing perspektif orang , tapi arti belajar versi saya didasari oleh KESADARAN untuk tahu apa yang kita pahami dan yang belum  dipahami sehingga melalui refleksi dibangun pemahaman baru dari setiap situasi yang dihadapi.

SD Santo Yusup sebagai  sekolah yang memiliki identitas jiwa pembelajaran Salib Atraktif, melihat situasi yang serba tidak pasti dan tidak menentu ini (VUCA), memiliki visi pendidikan yang mengarah pada pembentukkan manusia seutuhnya. Holistic Education yang digambarkan dengan daya-daya didalam Salib Atraktif ( daya tumbuh, daya peka, daya nalar dan daya kreatif) digerakkan oleh motivasi internal / hati nurani dari dalam diri anak dengan penuh kesadaran  untuk berfikir, berucap dan bertindak selaras.

Dasar belajar berupa komunikasi dan kolaborasi untuk membentuk relasi yang nyaman dan menciptakan kelas maupun sekolah yang menyenangkan. Jika hubungan dari hati ke hati sudah terasa dan terikat dalam suasana yang menyenangkan biarkan anak-anak menjelajah rasa ingin tahunya menjadi anak-anak kreatif dan memiliki gagasan berinovasi. Saatnya kini sekolah hanya memberikan ruang ,kesempatan dan kepercayaan pada anak-anak untuk mengeksplorasi belajar versi mereka. Biarkan anak-anak menemukan perannya dan melejitkan potensinya.

Sebagai komunitas pembelajar tidak hanya anak-anak yang selalu diberikan tantangan , kepala sekolah,guru-guru dan orang tuapun memiliki situasi belajar masing-masing yang selalu diawali dengan kesadaran diri. Melalui budaya refleksi bersama diharapkan masing-masing tahu perannya dan bertanggung jawab terhadap perannya tersebut.  Inilah yang membentuk CARING COMMUNITY dimana nantinya bagaikan bola salju semangat ini menular dari lingkup kecil ke lngkup yang lebih besar menjadi masyarakat yang bertanggung jawab terhadap kehidupan pribadi maupun alam semesta.

Mengutip kata-kata dari Dr. C.Otto Scharmer, dalam menghadapi tantangan pada situasi ini hendaknya kita tidak reaktif. Coba  amati dari perspektif yang berbeda, berempati dari kebutuhan yang tidak terucapkan, harmonisasi dengan dinamika dan reconnect dengan esensi masa depan bersama,memperjelas aspirasi lewat prototype dan akhirnya kita mengintegrasikan prototype kedalam sistem. Intinya Open mind, open heart dan open will…..Selamat menikmati perjalanan belajar untuk kita semua.

 

Salam hangat penuh cinta,